Pages

Subscribe:

Thursday, 8 November 2012

Kesalahan-kesalahan Dalam Hal Pakaian Wanita

Kesalahan-kesalahan Dalam Hal Pakaian Wanita 

1. Mengenakan pakaian yang terlalu sempit atau sendat, transparent (tembus pandang) dan yang membuat orang tertarik untuk memandang. 

Ini jelas haram. Setiap muslimah dilarang memakai pakaian yang sempit dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, juga pakaian tipis yang menampakkan warna kulit dan pakaian lain secara umum yang membuat orang terutama laki-laki tertarik untuk memandangnya. Ironinya, kenyataan ini menimpa majoriti para muslimah. Allah berfirman: 
"Dan janganlah wanita-wanita muslimah menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada para suami mereka." (An-Nur: 31). 
"Dan janganlah mereka (wanita-wanita muslimah) memukulkan kaki-kaki mereka untuk diketahui apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka." (An-Nur: 31). 
Jika memperdengarkan suara perhiasan seperti gelang kaki atau perhiasan sejenisnya yang tersembunyi tidak dibolehkan, maka bagaimana pula dengan perhiasan yang tampak nyata, lebih dari itu bagaimana hanya dengan menampakkan lengan tangan, dada, betis bahkan paha atau perut? 

2. Mengenakan pakaian yang terbuka dari bawah, atau tidak menutupi betis, dua telapak kaki, punggung, mengenakanseluar atau skirt pendek juga pakaian-pakaian yang menampakkan kecantikan wanita di hadapan laki-laki bukan mahramnya. 

Hal ini tidak boleh dilakukan oleh wanita di hadapan laki-laki bukan mahramnya, baik di dalam maupun di luar rumah. Tetapi ironinya, pakaian jenis inilah yang membudaya di kalangan yang mengaku dirinya muslimah. Para wanita itu tidak menyedari bahwa pakaiannya tersebut merupakan jenis kemungkaran yang besar, bahkan ia salah satu penyebab terbesar bagi timbulnya  perkosaan dan jenayah. Yang lebih menghairankan, seakan jenis pakaian ini terutama di kota sudah diterima masyarakat, sehingga jarang bahkan tak terdengar saranan mengingatkan kaum muslimah dari pakaiannya yang jauh dari Islam tersebut, baik lewat media massa maupun elektronik. Bahkan yang digelar di berbagai stesen telivision adalah pakaian-pakaian seronok dan telanjang, dan itu yang dilahap oleh kaum muslimah setiap hari sebagai anutan. 

Sesungguhnya munculnya keadaan ini telah pernah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Dua (jenis manusia) dari ahli Neraka yang aku belum melihatnya sekarang yaitu; kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi Surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim, shahih). 

3. Mengenakan pakaian yang berlengan pendek, termasuk di dalamnya mengenakan stoking lengan sehingga menampakkan kedua lengan tangan. 

Ini jelas haram karena tidak menutup aurat. Tetapi betapa banyak wanita muslimah yang tidak memperhatikan masalah ini, sehingga mereka mengenakan pakaian tersebut di jalan-jalan, di pasar dan di tempat-tempat umum. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar setan membuatnya indah (dalam pandangan laki-laki)." (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih). Yakni setan membuat segenap mata memandang kepada si wanita sehingga menimbulkan fitnah. 

4. Mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki, baik dalam bentuk maupun ciri-cirinya. 

Ini adalah dilarang. Wanita memiliki pakaian khusus dengan segenap ciri-cirinya, dan laki-laki juga memiliki pakaian yang khusus, yang membezakannya dari pakaian wanita. Dan wanita tidak diperbolehkan menyerupai laki-laki dalam hal pakaian, penampilan dan cara berjalan. Dalam hadits shahih disebutkan: 
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Bukhari, shahih). 
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki." (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya, sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim). 

5. Mengenakan konde (sanggul) rambut, karena ia termasuk menyambung rambut. 

Ketika acara walimah pernikahan atau acara-acara pesta lainnya banyak wanita muslimah yang berdandan dengan sanggul rambut. Ini adalah dilarang. Asma' binti Abi Bakar berkata, seorang wanita datang kepada Nabi `. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai anak perempuan yang pernah terserang campak sehingga rambutnya rontok, kini ia mau menikah, bolehkah aku menyambung (rambut)nya? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 
"Allah melaknat perempuan yang menyambung (rambut) dan yang meminta disambungkan rambutnya." (HR. Muslim). 
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang wanita menyambung (rambut) kepalanya dengan sesuatu apapun." (HR. Muslim). 

Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan wig (rambut palsu) yang biasanya dipasangkan oleh perias-perias yang salon-salon mereka penuh dihiasi dengan berbagai kemungkaran. Kebanyakan orang-orang yang melakukan hal ini adalah kalangan artis, bintang film, pemain drama, teater juga wanita-wanita yang kurang percaya diri dan ingin tampil lebih. Mudah-mudahan Allah menunjuki mereka dan kita semua. 

6. Mengecat kuku sehingga menghalangi air mengenai kulit ketika berwudhu. 

Setiap kulit anggota wudhu tidak boleh terhalang oleh air, termasuk di dalamnya kuku. Mengenakan cat kuku menjadikan air terhalang mengenai kuku, sehingga wudhu menjadi tidak sah. Allah berfirman: 
"Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu hingga ke siku, dan usaplah (rambut) kepalamu dan kakimu hingga ke mata kaki." (Al-Maidah: 6). 
Biasanya yang mengecat kuku adalah para wanita, tetapi larangan ini berlaku umum, baik laki-laki maupun wanita. 

7. Memakai kuku palsu atau memanjangkan kuku tangan dan kaki. 

Ini adalah menyalahi fithrah, dan larangan ini berlaku umum, baik bagi laki-laki maupun wanita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Ada lima fithrah; yaitu memotong rambut kemaluan, khitan, menggunting kumis, mencabut rambut ketiak dan memotong kuku." (Muttafaq alaih). 
Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata: 
"Kami diberi waktu dalam menggunting kumis, memo-tong kuku, mencabut bulu ketiak dan rambut kemaluan agar kami tidak membiarkannya lebih dari 40 malam." (HR. Muslim). 

Meskipun bagi sementara orang, memanjangkan kuku ada manfaatnya, misalnya untuk keperluan-keperluan khusus, tetapi ia tidak menjadikan hukumnya berubah menjadi boleh. Karena itu setiap muslim harus menjaga agar kukunya tidak sampai panjang, segera memotongnya jika telah tumbuh. Adapun di antara hikmahnya adalah untuk menjaga kebersihan, sehingga ia merupakan salah satu tindakan penjagaan. 

8. Tidak memakai kerudung (penutup kepala). 

Malapetaka besar yang dipropagandakan oleh kaum sekuler dan murid-murid orientalis adalah pendapat bahwa kerudung (penutup kepala) hanyalah kebudayaan Arab belaka, tidak merupakan perintah syari'at. Oleh mereka yang terbiasa tidak memakai kerudung, pendapat ini merupakan legitimasi dan pembenaran terhadap perbuatan mungkar mereka. Sedangkan mereka yang masih labil dan perlu pembinaan, mereka menjadi bimbang, tetapi biasanya mereka lebih mudah mengikuti trend yang ada. La haula wala quwwata illaa billah. Tidak seorang ulama salaf pun yang berpendapat kerudung (penutup kepala) bukan perintah agama. Pendapat aneh ini hanya terjadi di kalangan cendekiawan muslim yang jauh dari tuntunan salaf. Dan dalil masalah ini sebagaimana disebutkan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu. 

9. Tidak memakai kaos kaki, sehingga tampak telapak kakinya. 

Bagi sebagian muslimah yang ta'at memakai pakaian muslimah pun, terkadang masalah ini dianggap sepele. Telapak kaki termasuk aurat, karena itu ia harus ditutupi, membiarkannya kelihatan berarti kemungkaran dan dosa. Dalil masalah ini sebagaimana disebutkan dalam masalah-masalah terdahulu. 

Wanita pada dasarnya sangat senang dipuji, baik kecantikannya, kelembutannya dan sifat-sifat indahnya yang lain. Tetapi banyak yang terperosok jauh, ingin dipuji kecantikannya, meski dengan resiko membuka aurat, agar tampak lebih indah mempesona. Ingatlah, wanita adalah sumber fitnah. Dan fitnah terbesar dari wanita adalah soal auratnya. Kaum muslimah yang menutup aurat secara syar'i berarti telah memberikan sumbangan terbesar bagi tertutupnya sumber fitnah. Karena itu, berhati-hatilah wahai kaum muslimah dalam hal berpakaian! (ain). 

Kesalahan-kesalahan Dalam Hal Pakaian Laki-Laki 

1. Isbal. 

Isbal yaitu menurunkan atau memanjang-kan pakaian hingga di bawah mata kaki. Larangan isbal bersifat umum untuk seluruh jenis pakaian, baik celana panjang, sarung, gamis, mantel atau pakaian lainnya. Ironinya, larangan ini dianggap remeh oleh kebanyakan umat Islam, padahal dalam pandangan Allah ia merupakan masalah besar. Rasulullah ` bersabda: 
"Kain yang memanjang hingga di bawah mata kaki tempatnya di Neraka." (HR. Al-Bukhari, shahih). 
Ancaman bagi musbil (orang yang melakukan isbal ) dengan Neraka tersebut sifatnya adalah muthlak dan umum, baik dengan maksud takabur atau tidak. Jika isbal tersebut dilakukan dengan maksud takabur maka ancamannya lebih besar. Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam bersabda: 
"Pada hari Kiamat, Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret bajunya (musbil, ketika di dunia) karena takabur." (Muttafaq Alaih, shahih). 

Dan secara tegas Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam melarang kita kaum laki-laki melakukan isbal. Beliau Shallallahu 'alaihi wasalam bersabda: 
"Dan tinggikanlah kainmu hingga separuh betis, jika engkau enggan maka hingga mata kaki. Dan jauhilah olehmu memanjangkan kain di bawah mata kaki, karena ia termasuk kesombongan, dan sungguh Allah tidak menyukai kesombongan." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dengan sanad shahih , At-Tirmidzi berkata, hadits ini hasan shahih). 

Hadits di atas memberi kata putus terhadap orang yang beralasan bahwa memanjangkan kain hingga di bawah mata kaki dibolehkan asal tidak karena sombong. Ini adalah alasan batil dan dicari-cari untuk pembenaran kebiasaan mereka yang menyalahi sunnah. Hadits di atas dengan tegas memasukkan perbuatan isbal sebagai sikap sombong, apatah lagi jika memang isbal-nya itu diniati untuk sombong. Maka pantaslah ancamannya sangat berat. Dan fakta menunjukkan, laki-laki yang musbil itu, memanglah pada umumnya untuk bergaya yang di dalamnya ada unsur bangga diri dan sombong. Buktinya kebanyakan mereka menganggap kampungan, kolot dan udik serta melecehkan saudara-saudara mereka yang mengenakan pakaian di atas mata kaki, padahal itulah yang diperintahkan syari'at. 

Adapun kaum wanita, mereka diwajibkan menutupi tubuhnya hingga di bawah mata kaki, karena ia termasuk aurat. Namun pada umumnya, yang dipraktikkan umat Islam di zaman ini adalah sebaliknya. Laki-laki memakai pakaian hingga di bawah mata kaki, sedang wanita pakaiannya jauh di atas mata kaki. Na'udzubillah, dan kepada Allah kita memohon keselamatan. 

2. Mengenakan pakaian tipis dan ketat. 

Dalam kaca mata syari'at, jika bahan-bahan pakaian itu sangat tipis sehingga menampakkan aurat, lekuk-lekuk tubuh atau sejenisnya maka pakaian itu tidak boleh dikenakan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurun-kan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan." (Al-A'raf: 26). 

Tetapi jika pakaian itu tidak menampakkan aurat dan lekuk-lekuk tubuh maka hal itu tidak mengapa. Namun jika pakaian itu menyerupai dan menunjukkan identitas pakaian orang kafir maka ia tidak dibolehkan. 

3. Mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian wanita. 

Di antara fithrah yang disyari'atkan Allah kepada hambaNya yaitu agar laki-laki menjaga sifat kelelakiannya dan wanita menjaga sifat kewanitaannya seperti yang telah diciptakan Allah. Jika hal itu dilanggar, maka yang terjadi adalah kerusakan tatanan hidup di masyarakat. Dalam hadits shahih disebutkan: 
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Al-Bukhari). 

Sebagian ulama' berkata, 'Yang dimaksud menyerupai dalam hadits tersebut adalah dalam hal pakaian, berdandan, sikap, gerak-gerik dan sejenisnya, bukan dalam berbuat kebaikan.' Karena itu, termasuk dalam larangan ini adalah larangan menguncir rambut, memakai anting-anting, kalung, gelang kaki dan sejenisnya bagi laki-laki, sebab hal-hal tersebut adalah kekhususan bagi wanita. Rasulullah ` bersabda: 
"Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki." (HR. Abu Daud, Shahihul Jami' , 5071) . 

4. Mengenakan pakaian modis yang sedang nge-trend. 

Saat ini sebagian umat Islam, terutama kaum mudanya sering tergila-gila dengan mode pakaian yang sedang in (nge-trend ) atau pakaian yang dikenakan oleh para bintang dan idola mereka. Seperti pakaian bergambar penyanyi, kelompok-kelompok musik, botol dan cawan arak, gambar-gambar makhluk hidup, salib atau lambang-lambang club-club dan organisasi-organisasi non Islam, juga slogan-slogan kotor yang tidak lagi memperhitungkan kehormatan dan kebersihan diri, yang biasanya ditulis di punggung pakaian atau kaos dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa asing. 

Pada umumnya para pemakai pakaian-pakaian tersebut merasa bangga dengan pakaiannya, bahkan dengan maksud untuk memperoleh popularitas karena pakaiannya yang aneh tersebut. Padahal Nabi ` bersabda: 
"Barangsiapa mengenakan pakaian (untuk memper-oleh) popularitas di dunia, niscaya Allah mengenakan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, hasan). 

Imam Asy-Syaukani berkata, 'Hadits di atas menunjuk-kan diharamkannya mengenakan pakaian untuk meraih popularitas. Dan larangan tersebut tidak khusus terhadap pakaian untuk popularitas, tetapi termasuk juga pakaian yang menyelisihi pakaian masyarakat pada umumnya (yang bertentangan dengan agama/etika). Jika pakaian itu untuk maksud popularitas, maka tidak ada bedanya antara pakaian yang mahal atau kumal, sesuai dengan yang dikenakan orang pada umumnya atau tidak, sebab pengharaman tersebut berporos pada (niat) popularitas.' 

5. Mengenakan pakaian yang tidak menutupi aurat. 

Seperti memakai celana pendek atau pakaian olah raga lainnya yang menampakkan paha. Aurat laki-laki adalah dari pusar hingga dua lutut kaki. Karena itu, paha termasuk aurat. Setiap muslim diperintahkan menutup dan menjaga auratnya kecuali di depan isteri atau hamba sahayanya. Ketika Rasulullah ` melihat sahabat Ma'mar tersingkap pahanya, beliau ` bersabda: 
"Wahai Ma'mar, tutupilah pahamu, karena paha adalah aurat." (HR. Ahmad). 
"Jagalah auratmu kecuali dari isterimu atau hamba sahayamu." (HR. Imam lima kecuali An-Nasa'i dengan sanad hasan). 

6. Tidak memperhatikan masalah pakaian ketika masuk masjid. 

Sebagian orang yang akan menunaikan shalat berjama'ah tak peduli dengan pakaian yang dikenakannya, bahkan terkadang di luar kepatutan dan kepantasan. Misalnya masuk masjid dengan mengenakan jenis pakaian sebagaimana disebutkan pada poin keempat. Shalat adalah untuk menghadap kepada Allah, karena itu kita harus mengenakan pakaian yang bagus dan indah sebagaimana yang diperintahkan. Allah berfirman: 
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raf: 31). 

Disunnahkan pula agar kita memakai wangi-wangian ketika hendak ke masjid dan menghindari bau-bauan yang tidak sedap. Demikianlah yang dituntunkan dan dipraktikkan baginda Nabi ` dan para sahabatnya yang mulia. 

7. Mengenakan pakaian bergambar makhluk bernyawa 

Apalagi gambar orang-orang kafir, baik penyanyi, seniman, negarawan atau orang-orang terkenal lainnya. Mengenakan pakaian bergambar makhluk bernyawa adalah haram, baik gambar manusia atau hewan. Nabi Shalaluhu'alaihi Wa salam bersabda: 
"Setiap tukang gambar ada di Neraka, Allah mencipta-kan untuknya (dari) setiap gambar yang ia bikin sebuah nyawa, lalu mereka menyiksanya di Neraka Jahannam." (HR. Muslim). 
"Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada di dalamnya anjing dan gambar-gambar." (HR. Al-Bukhari). 

Adapun gambar orang-orang kafir maka memakai atau menggunakannya madharatnya akan semakin besar, sebab akan mengakibatkan pengagungan terhadap mereka. 

8. Laki-laki menggunakan perhiasan emas dan kain sutera. 

Saat ini banyak kita jumpai barang-barang perhiasan untuk laki-laki yang terbuat dari emas. Seperti jam tangan, kaca mata, kancing baju, pena, rantai, cincin dan sebagainya. Ada pula yang merupakan hadiah dalam suatu pertandingan, misalnya sepatu emas dan lainnya. 

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam melihat cincin emas di tangan seorang laki-laki, serta merta beliau mencopot lalu membuangnya, seraya bersabda: 
"Salah seorang dari kamu sengaja (pergi) ke bara api, kemudian mengenakannya di tangannya!' Setelah Rasulullah ` pergi, kepada laki-laki itu dikatakan, 'Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah!' Ia menjawab, 'Demi Allah, selamanya aku tidak akan mengambilnya, karena Rasulullah ` telah membuangnya." (HR. Muslim, 3/1655). 

Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda: 
"Dihalalkan emas dan sutera itu untuk kaum wanita dari kaumku dan diharamkan keduanya bagi kaum prianya dari mereka." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa'i, shahih).

Wednesday, 7 November 2012

Kesalahan Berpakaian Yang Sering Berlaku

 Keterangan : 
  • A. Kesalahan gambar A : Kain yang dipakai terlalu singkat Menurut riwayat Imam Tarmizi dan Nasa'i dari umma salamah r.a :Ya Rasulullah, bagaimana perempuan akan berbuat kain-kain mereka yang sebelah bawah Sabda Rasulullah : Hendaklah mereka memanjangka barang sejengkal dan janganlah menambahkan lagi keatasnya

  • B. Kesalahan gambar B tudung tidak menutipi dada Allah SWT berfirman dalam ayat An-nur, Ayat 31 : Hendaklah mereka tutupkan (tudung selendang) mereka ke leher dan ke dada mereka


  • C. Kesalaan gambar C : Tudung tidak menutupi dada, lengan blus pendek,  kain yang di pakai terlalu singkat. __Sesungguhnya sembilangan ahli neraka adalah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan  maksiat. mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya Riwayat bukhari muslim  
  • D. Kesalahan gambar D : 1. Pakaian ketat dan menammpakkan susuk tubuh. Rasulullah Bersabda : "__hendaklah kamu meminjamkan dia baju yang panjang dan longgar" .  2. Solekan yang jelas dilihat (lipstik) Allah SWT. berfirman dalam surah Al' araf  ayat 31 bermaksud : pakailah perhiasanmu pada waktu sembahyang . makan dan minumlah dan jangan melampaui batas: 


  • E Kesalahan gambar E : 1.Tudung tidak menutupi dada,2. Tidak bersarung kaki, 3.Pakaian ketat menampakkan susuk tubuh, 4. Blus yang di pakai singkat  Katakanlah kepada Perempuan-perempuan yang beriman hendaklah mereka merendahkan pemandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka surah An nur ayat 31 
  • F Kesalahan gambar F : 1. Lengan Blus pendek, 2. Tidak bersarung kaki, 3. Kain yang di pakai berbelah di depan (slit ) Barang siapa yang memakai pakaian yang menjolok mata. maka Allah SWT memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti" Riwayat Ahmad, Abu daud An nasa'i dan Ibn majah

Tuesday, 6 November 2012

PAKAIN ISLAM MORO?



Pakaian Islam Selatan Filipina

Pakaian ini dipakai oleh umat Islam yang tinggal 
di bahagian selatan dari Filipina.


Ia mempunyai skirt panjang untuk wanita, yang sering ditenun dengan benang logam (mungkin emas).


Kaum wanita juga sering mempunyai selendang dan tudung yang terbungkus dari bahu.
Rekaan Batik juga biasa dengan ini pakaian.
Ia menunjukkan campuran Arab, Malaysia dan China.
Payung membuat kenyataan fesyen yang bagus, biasanya digunakan oleh seorang puteri Islam.
Bagi standard kita di Malaysia, pakaian ini belum cukup Islamik, tetapi sekurang-kurangnya mereka berusaha untuk menutup aurat.
Bila keadaan aman nanti, menjadi tugas kita pendakwah-pendakwah Malaysia untuk mendidik mereka yang dahagakan ilmu ini.

PhotobucketPhotobucket

Pakaian Muslimah


Firman Allah Swt:
Hendaklah mereka tidak menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa tampak pada dirinya” (Surah An-Nur ayat 31)

Yang dimaksudkan dengan ‘yang biasa tampak pada dirinya’ adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kedua-dua anggota tubuh wanita inilah yang biasa tampak pada kaum muslimah di hadapan Nabi saw dan baginda membiarkannya. Kedua-dua anggota tubuh wanita ini pula yang biasa tampak dalam ibadah-ibadah tertentu seperti haji dan solat. Kedua-dua anggota tubuh wanita ini biasa terlihat pada masa Rasulullah saw, yaitu pada masa ayat al-Quran masih turun. Disamping itu, terdapat hujah lain yang menunjukkan bahawa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

Rasulullah saw bersabda:
Jika seorang anak wanita telah mencapai usia baligh, tidak pantas terlihat dari dirinya selain wajah dan kedua telapak tangannya sampai bahagian pergelangannya.” (Hadith Riwayat Imam Abu Daud daripada Qatadah)

Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadith yang berasal dari pertuturan Asma’ binti Umays. Ia bertutur demikian:
Rasulullah saw pernah masuk ke kamarAisyah binti Abu Bakar, sementara ia bersama dengan saudaranya Asma’ binti Abu Bakar, yang saat itu sedang mengenakan pakaian tipis yang bahagian lengannya longga. Ketika Rasulullah saw melihatnya, beliau segera bangkit dan kemudian keluar kamar. Aisyah lantas berkata sambil mengikuti Rasulullah saw. Rasulullah tampak seperti melihat sesuatu yang tidak disukainya sehingga Aisyah pun menghampirinya. Akan tetapi kemudian, Rasulullah saw masuk kembali. Baginda lantas ditanya oleh Aisyah, mengapa baginda sampai bangkit dan keluar? Baginda kemudian bersabda ‘Tidakkah engkau melihat keadaannya? Ia seperti bukan wanita muslimah yang seharusnya hanya menampakkan ini dan ini.’ Baginda berkata demikian seraya mengambil kain dan menutupkannya pada kedua tangannya sehingga yang tampak hanya jari-jemarinya. Baginda melilitkan kain tersebut dengan kedua tangannya ke arah kepalanya hingga yang tampak hanya bahagian wajahnya.”

Aisyah r.a telah menuturkan riwayat bahawa Asma binti Abu Bakar pernah masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis (transparan) sehingga Rasulullah saw berpaling seraya bersabda:
Asma, sesungguhnya perempuan itu, jik telah baligh, tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini(sambil menunjukkan wajah dan telapak tangan).

Riwayat Abu Bakar yang bersumber dari Ibnu Jurayi. Ia menuturkan bahawa Aisyah pernah berkata demikian:
Keponakan (anak saudara) perempuanku pernah masuk ke ruanganku seraya bersolek. Rasulullah saw kemudian masuk ke ruanganku sambil berpaling. Aku lantas berkata: ‘Wahai Rasulullah ia adalah anak saudara perempuanku, dan ia masih kecil.’ Akan tetapi, Rasulullah saw bersabda: ‘Jika seseorang wanita telah mengalami haid, ia tidak boleh menampakkan tubuhnya, kecuali wajah dan ini.’ Baginda berkata demikian sambil menggenggam tangannya dan membiarkan jari-jemarinya saling menggenggam antara satu sama lain.

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahawa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Pakaian apapun yang berfungsi sebagai penutup seluruh auratnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, dianggap sudah mencukupi bagaimanapun bentuknya. Syariat juga menetapkan agar pakaian tersebut menutupi kulit sekaligus warnanya, dimana sekiranya kain penutup itu tipis sehingga tetap menampakkan warna kulitnya, maka ianya masih belum dianggap menutup aurat.

Walaupun demikian, kita tidak boleh mencampur adukkan pembahasan tentang penutup aurat dengan pembahasan tentang pakaian wanita dalam kehidupan umum dan tentang topik tabarruj (mempamerkan kecantikan). Meskipun seseorang wanita telah mengenakan seluar panjang yang sudah dapat menutupi aurat dan tidak tipis, tidak beerti bahawa ia boleh memakainya dihadapan lelaki bukan mahram sementar menunjukkan kecantikan dan memperlihatkan perhiasannya. Jika melakukannya, walaupun ia telah menutupi auratnya, ia masih bertabarruj iaitu mempamerkan kecantikan yang tampak pada tubuhnya. Tabarruj dilarang oleh syariat atas wanita. Walaupan ia telah menutupi auratnya belum tentu dianggap tidak bertabarruj. Atas dasar ini, kita tidak boleh mencampurkan pembahasan tentang topik menutup aurat dengan topik tabarruj, kerana keduanya berlainan. Topik tabarruj akan dibincangkan dalam tajuk berikutnya nanti.

Bebalik kepada pakaian wanita dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, ketika urusan jual beli dan sebagainya, Allah Swt telah mewajibkan kepada wanita untuk mengenakan pakaian luar (yaitu pakaian yang dikenakan di luar pakaian sehari-hari) jika keluar(rumah) dan berada dalam kehidupan umum. Mereka wajib mengenakan pakaian terusan iaitu jilbab (baca: jilbab, yaitu pakaian yang terus bersambung – tidak terpotong-potong – dari bahagian atas sampai kebahagian bawah tubuhnya – serupa jubah dan pakaian yang sepertinya).

Firman-firman Allah Swt:
Hendaklah mereka menutupkan kain tudung (khimar) ke dadanya dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya.” (Surah An-Nur ayat 31)

Wahai Nabi, katakan kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka.” (Surah Al-Ahzab ayat 59)

Ummu ‘Athiyah pernah bertutur demikian: "Rasullullah saw memerintahkan kami – baik ia budak wanita, wanita haid, ataupun wanita perawan – agar keluar(menuju lapangan) pada Hari Raya Aidilfitri dan Aidiladha. Bagi para wanita yang sedang haid diperintahkan untuk menjauhi dari tempat solat, namun tetap menyaksikan kebaikan dan seruan atas kaum muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab.” Rasulullah pun menjawab, “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya kepadanya.

Di dalam hadith yang diriwayatkan dari Ibnu Umar. Ia menuturkan demikian:
Rasulullah saw pernah bersabda, “Siapa saja yang mengangkat pakaiannya kerana sombong, di Hari Kiamat nanti Allah Swt pasti tidak akan memperdulikannya.” Ummu Salamah lalu bertanya, “Jika demikian, lantas bagaimana dengan yang dilakukan para wanita atas bahagian bawah pakaian mereka?” Nabi menjawab, “Hendaklah mereka mengulurkannya sejengkal.” Ummu Salamah kembali bertanya, “Kalau begitu, kedua kaki mereka masih tampak?” Nabi saw kembali menjawab, “Jika demikian, hendaklah mereka mengulurkannya lagi sehasta, dan tidak menambahnya.”

Dalil-dalil di atas menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah Swt telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas tadi dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh.Mengenai pakaian wanita bahagian atas, Allah Swt berfirman:
Hendaklah mereka menutup kain kudung (tudung) ke dada mereka
(Surah An-Nur ayat 31)

Maksudnya, hendaklah para wanita menghamparkan kain penutup kepalanya di atas leher dan dadanya agar lipatan pakaian dalam dan pakaian luar pada leher dan dadanya tersembunyi. Sementara itu, mengenai pakaian wanita bahagian bawah, Allah Swt berfirman:
Hendaklah mereka mengulurkan jilbab atas diri mereka” (Surah Al-Ahzab ayat 59)

Maksudnya, hendaklah para wanita mengulurkan pakaian yang dikenakan pada bahagian luar (jilbab) pakaian sehariannya (contoh pakaian harian iaitu baju kurung, T-shirt, seluar panjang dan sebagainya yang digunakan sebagai pakaian harian) jika mereka hendak keluar rumah.Tentang cara mengenakan pakaian luar (jilbab) tersebut, Allah Swt berfirman:
Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak pada dirinya.” (Surah An-Nur ayat 31)

Maksudnya janganlah mereka menampakkan tempat perhiasan dan anggota tubuh mereka seperti kedua-dua telinga, kedua-dua lengan, kedua-dua betis kaki, ataupun selain itu kecuali apa yang biasa tampak pada diri mereka di dalam kehidupan umum. Ketika ayat ini turun yang biasa tampak pada diri wanita adalah wajah dan kedua tapak tangan.

Dengan gambaran yang terperinci di atas maka jelaslah bagaimana pakaian wanita dalam kehidupan umum dan apa sahaja kewajiban mereka berkaitan dengan pakaian tersebut.

Hadith yang dituturkan oleh Ummu ‘Athiyah yang menerangkan secara tegas tentang kewajiban wanita untuk mengenakan pakaian luar(jilbab) di atas pakaian seharian sekiranya hendak keluar rumah. Ketika itu, Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasul saw “Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.” Rasulullah saw kemudian memerintahkan agar saudaranya meminjamkan jilbabnya yang dapat dikenakan di atas pakaian sehariannya. Jika saudaranya tidak meminjamkannya, samaada ia tidak mampu meminjam atau tidak diberi pinjam, maka dia tidak boleh keluar rumah kerana tidak mempunyai pakaian seperti yang telah disyariaatkan. Ini adalah indikasi yang menunjukkan bahawa perintah mengenakan jilbab bagi kaum wanita yang ingin keluar rumah adalah wajib. Dengan kata lain, wanita wajib mengenakan jilbab di atas pakaian sehariannya jika hendak keluar rumah. Sebaliknya jika ia tidak mengenakan jilbab, ia tidak boleh keluar rumah.

Hadith yang kedua pula menjelaskan bahawa Jilbab mestilah diulurkan ke bawah sampai menutupi kedua kakinya. Dalam hal ini yang penting menutup kedua kaki dengan mengulurkan jilbab sampai ke bawah bukan hanya menutup warna kakinya dengan stokin atau kasut semata-mata. Meskipun telah menutup aurat tetapi tidak dianggap sempurna jika tidak mengulurkan jilbab sampai ke bawah.

Dengan yang demikian jelaslah bahawa wanita wajib mengenakan jilbab atau pakaian luas di atas pakaian sehariannya jika hendak keluar rumah. Jika ia tidak memilikinya sedangkan ia ingin keluar, hendaklah ia meminjamnya daripada saudaranya atau wanita muslimah siapa saja yang bersedia meminjamkannya. Jika tidak ada yang meminjamkannya, ia tidak boleh keluar rumah sehinggalah dia mendapat pakaian tersebut. Jika ia keluar rumah tanpa mengenakan jilbab yang terdampar hingga ke bawah, beerti ia tetap dipandang berdosa, walaupun pakaian sehariannya telah menutupi seluruh auratnya. Sebab seorang wanita wajib mengenakan jilbab yang terdampar ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Menyalahi ketentuan ini dipandang berdosa di sisi Allah Swt.

Dalam konteks dimana seorang wanita dilihat oleh mahramnya, ia boleh menampakkan bahagian-bahagian tubuhnya yang menjadi tempat melekat perhiasannya, lebih sekadar wajah dan kedua telapak tangan, tanpa dibatasi bahagian-bahagian tubuh tertentu. Kebolehan ini secara mutlak ditetapkan oleh nash, 

Allah Swt berfirman:
Katakanlah kepada wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya. Dan hendaklah mereka pun menutup kain kudung (tudung) ke dadanya. Janganlah mereka menampakkan perhiasannya selain kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau anak-anak lelaki kandung mereka, atau anak-anak lelaki tiri mereka, atau saudara (adik-beradik) lelaki mereka, atau anak-anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak-anak lelaki saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan lelakiyang tidaklagimemiliki hasrat seksual, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. ”
(Surah An-Nur ayat 31)

Orang-orang yang disebut dalam ayat di atas boleh melihat bahagian-bahagian tubuh wanita mulai dari rambut, leher, pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan bahagian-bahagian tubuh lain yang biasa menjadi tempat melekatkan perhiasan mereka (rantai, gelang dan sebagainya). Sebab dalam ayat di atas, Allah Swt menggunakan kata “wa la yubdina”, yaitu tempat melekatkan perhiasan mereka. Ertinya, wanita tidak boleh menampakkannya kecuali terhadap orang-orang yang telah disebutkan dalam ayat tersebut. Mereka inilah yang boleh melihat apa yag tampak pada wanita ketika mereka memakai pakaian sehari-hari.


Tabarruj

Erti tabarruj ialah membuka sesuatu dan menampakkan sesuatu untuk dilihat oleh orang lain. Ia juga beerti memaksa diri untuk membuka sesuatu yang harus disembunyikan. Namun begitu ia memberi maksud yang khusus, iaitu menampakkan perhiasan dan kecantikannya kepada lelaki lain yang bukan mahramnya. Oleh kerana bersolek ada kaitannya dengan aurat, maka syariat menetapkan beberapa hukum seperti yang terdapat dalam hukum aurat.

Firman Allah Swt:
Dan janganlah kamu berhias (di depan lelaki bukan mahram) dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu.”
(Surah al-Ahzab ayat 33) 

Rasulullah saw sewaktu menerima baiah daripada seorang wanita Islam bernama Umaiah binti Ruqauyah telah memasukkan syarat agar meninggalkan amalan bersolek secara jahiliah sebagai suatu perkara yang mesti dipatuhi.

Rasulullah saw juga bersabda:
Aku telah melihat di dalam neraka, aku melihat kebanyakan penghuninya wanita. Sebabnya mereka sedikit yang patuh pada Islam dan Rasulnya, kurang taat kepada suaminya dan kuat bersolek.

Ayat al-Quran berikut lebih menguatkan hadits di atas:
Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada keinginan untuk menikah lagi, tiadalah atas mereka (pakaian luar) dengan tidak menampakkan perhiasan (menunjukkan kecantikan).” 
[an-Nur:60]

Ayat tersebut menjelaskan bahawa wanita-wanita yang sudah mengalami menopouse boleh untuk menanggalkan jilbab (pakaian luar)-nya. Akan tetapi, mereka tetap wajib menutup auratnya dan tidak menampakkan perhiasan (kecantikan) yang ada pada diri mereka. Jikalau wanita tua yang telah menopouse pun dilarang untuk menunjukkan kecantikan (yang nampak pada tubuh badannya atau bersolek untuk mempamerkan kecantikan) yang ada pada dirinya, apatah lagi wanita yang masih subur tentu saja tidak boleh bertabarruj (menunjukkan kecantikan). Kecantikan tubuh kenalah ditutup dengan hijab seperti yang disyariatkan iaitu menggunakan jilbab (serupa jubah) dan kain kudung (tudung) ketika keluar rumah menuju kehidupan umum atau ketika berdepan dengan bukan mahramnya. Syara’ juga melarang amalan bersolek dengan tujuan mempamerkan kecantikan dihadapan lelaki bukan mahram.

Daripada dalil-dalil di atas jelaslah bahawa bersolek untuk tujuan mempamerkan kecantikan dan menampakkan bahagian tubuh tanpa hijab (jilbab dan tudung) di hadapan bukan mahram adalah dilarang. Bagi seorang isteri hanya boleh bersolek untuk suaminya dan tidak boleh mempamerkan kecantikannya kepada lelaki yang bukan mahramnya.


Hadith-hadith Berkaitan Dengan Aurat

Rasulullah saw bersabda:
Aurat mukmin terhadap mukmin yang lain adalah haram.” (Hadith Riwayat Aththahawi)

Jagalah auratmu kecuali terhadap isterimu atau budak(hamba) wanita yang kamu miliki. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana kalau dia sedang bersendirian?’ Nabi saw menjawab, “Allah lebih berhak (patut) kamu berasa malu.” (Hadith Riwayat Bukhari)

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah saw, manakah bahagian aurat kami yang harus kami tutupi dan mana boleh kami biarkan?” Rasulullah saw lalu bersabda kepadaku, “Jagalah auratmu kecuali terhadap isterimu atau hamba sahayamu.” (Hadith Riwayat Bahz Ibn Hakim)

Jika ada diantara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bahagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya, kerana bahagian tersebut termasuk aurat.” (Hadith Riwayat Amr Ibn Syuaib)

Jika seorang anak wanita telah mencapai usia baligh, tidak pantas terlihat darinya selain wajah dan kedua telapak tangannya sampai bahagian pergelangannya.” (Hadith Riwayat Imam Abu Daud daripada Qatadah)

Ibn Abbas pernah berkata kepada saya, “Mahukah anda saya tunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli syurga?” Saya menjawab, “Ya.” Ia kemudian menceritakan bahawa wanita tersebut berkulit hitam. Wanita itu pernah datang kepada Nabi saw lalu berkata, “Aku ini menderita sakit ayan sehingga auratku sering tersingkap. Kerana itu, aku mohon anda berdoa berdoa kepada Allah Swt untukku.” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya jika engkau menghendaki dan berlaku sabar, balasannya adalah syurga. Akan tetapi, jika engkau menghendaki, aku boleh mendoakanmu supaya engkau sembuh.” Wanita itu berkata, “Kalau begitu, aku mahu bersabar. Akan tetapi, auratku sering tersingkap. Kerana itu, doakanlah agar auratku tidak teringkap.” Setelah itu, Nabi saw mendoakannya. (Hadith Riwayat Atha Ibn Abi Rabbah)

Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kita untuk melaksanakan setiap kewajiban yang telah Allah tetapkan serta mengukuhkan iman kita dengan menjadikan kita sentiasa tunduk dan terikat dengan hukum-hukum-Nya.

Wallahu’alam.

Credit - www.mykhilafah.com